
Conquering Fears: A Quest for the Javan Rhino
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Conquering Fears: A Quest for the Javan Rhino
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Langit Ujung Kulon berwarna abu-abu.
The sky of Ujung Kulon was gray.
Hujan deras terus turun menembus canopy hutan.
Torrential rain continued to fall, penetrating the forest canopy.
Anjing hutan menggonggong di kejauhan, namun dedaunan tebal meredam suara itu.
Wild dogs barked in the distance, but the thick foliage dampened the sound.
Kirana dan Rizky, dua biologist gagah, menyusuri jalan setapak yang licin.
Kirana and Rizky, two brave biologists, navigated the slippery path.
Mereka memiliki misi penting: mencari dan memberi tag badak Jawa yang hampir punah.
They had an important mission: to find and tag the critically endangered Javan rhino.
"Kita harus hati-hati," ujar Rizky, suaranya tetap tenang meskipun hujan.
"We have to be careful," said Rizky, his voice remaining calm despite the rain.
"Trek ini sulit saat musim hujan.
"This track is difficult during the rainy season."
"Kirana mengangguk.
Kirana nodded.
Hatinya berdebar cepat.
Her heart was pounding.
Meski berpengalaman, dia belum pernah terpisah di hutan lebat seperti ini.
Even though she was experienced, she had never been separated in such a dense forest before.
Ketakutan akan kesendirian menelusup di benaknya.
The fear of being alone crept into her mind.
Namun, dia bertekad untuk mengatasi ketakutannya dan membantu proyek konservasi ini.
However, she was determined to overcome her fear and help with this conservation project.
Rizky berhenti sejenak, memeriksa peta dan kompas.
Rizky paused for a moment, checking the map and compass.
"Kita akan mencari di area sebelah timur," katanya sambil menjelaskan rencana mereka.
"We'll search in the eastern area," he said while explaining their plan.
Keduanya melanjutkan perjalanan.
The two continued their journey.
Langkah mereka hati-hati menghindari belukar.
Their steps were cautious, avoiding the undergrowth.
Angin bertiup lebih keras, membuat pepohonan bergoyang menyeramkan.
The wind blew stronger, making the trees sway eerily.
Dalam kekacauan suara alam ini, Kirana merasa semakin tegang.
Amidst the chaos of nature's sounds, Kirana felt increasingly tense.
Tanpa diduga, Kirana terpeleset.
Unexpectedly, Kirana slipped.
Semak belukar yang padat membuatnya terpuruk.
The dense underbrush caused her to fall.
Dia mencoba bangkit, namun Rizky sudah menghilang di antara pepohonan.
She tried to get up, but Rizky had already disappeared among the trees.
"Rizky!
"Rizky!"
" panggil Kirana panik.
called Kirana in panic.
Tak ada jawaban, hanya desau angin dan gemuruh hujan.
There was no answer, only the rustle of the wind and the roar of the rain.
Dia merasa sendirian dan ketakutannya memuncak.
She felt alone, and her fear peaked.
Kirana menarik napas dalam-dalam.
Kirana took a deep breath.
Ketika kecil, ayahnya selalu berkata, "Ketika kau tersesat, tetaplah tenang.
As a child, her father always said, "When you're lost, stay calm.
Gunakan kepalamu.
Use your head."
" Dia memutuskan untuk mengandalkan instingnya, seperti yang diajarkan selama pelatihan.
She decided to rely on her instincts, as taught during her training.
Dia mulai mencari tanda-tanda alam yang dikenalnya.
She began to search for familiar natural signs.
Batu besar yang ditempatkan oleh tim sebelumnya dan suara air terjun di kejauhan menjadi petunjuk.
A large stone placed by a previous team and the sound of a waterfall in the distance became her clues.
Kirana bergerak perlahan menuju arah yang dia yakini sebagai jalur kembali.
Kirana moved slowly toward the direction she believed to be the way back.
Saat itu, sebuah suara gemeretak membuatnya menoleh.
At that moment, a rustling sound made her turn.
Seekor badak Jawa besar tepat di depannya.
A large Javan rhino was right in front of her.
Jantung Kirana berdegup kencang, tapi dia tahu inilah kesempatan sekali seumur hidup.
Kirana's heart raced, but she knew this was a once-in-a-lifetime opportunity.
Dengan tenang, dia mendekati badak itu, mengambil alat penanda, dan bekerja dengan hati-hati.
Calmly, she approached the rhino, took the tagging tool, and worked carefully.
Ketika alat penanda terpasang, Kirana merasa lega.
Once the tag was attached, Kirana felt relieved.
Misinya berhasil meskipun dia takut setengah mati.
Her mission was a success, even though she was scared out of her wits.
Hujan mulai reda saat Kirana melanjutkan perjalanannya.
The rain began to let up as Kirana continued her journey.
Berdasarkan napas air terjun, dia bisa menavigasi dengan lebih percaya diri.
Using the sound of the waterfall, she was able to navigate more confidently.
Menjelang senja, Kirana tiba di camp.
By dusk, Kirana arrived at the camp.
Rizky berdiri di bawah tenda darurat, basah namun tersenyum lega.
Rizky stood under an emergency tent, wet but smiling with relief.
"Aku tahu kamu bisa melakukannya, Kirana," katanya bangga.
"I knew you could do it, Kirana," he said proudly.
Kirana tersenyum, kedinginan tapi bahagia.
Kirana smiled, cold but happy.
Dia merasa lebih kuat, lebih berani daripada sebelumnya.
She felt stronger, braver than before.
Kini, rasa takut sendirian di hutan tidak lagi menghantui.
Now, the fear of being alone in the forest no longer haunted her.
Dia tahu, dia bisa mengandalkan dirinya sendiri.
She knew she could rely on herself.
Misi konservasi mereka berjalan dengan baik, dan Kirana telah mengatasi ketakutannya.
Their conservation mission was going well, and Kirana had overcome her fears.
Di bawah tenda yang basah, Kirana dan Rizky berbicara tentang petualangan mereka.
Under the wet tent, Kirana and Rizky talked about their adventure.
Tawa mereka seakan mengusir segala ketegangan dan dingin yang tersisa.
Their laughter seemed to dispel all the remaining tension and cold.
Hujan masih turun, tetapi di hati Kirana, matahari sudah bersinar terang.
The rain still fell, but in Kirana's heart, the sun was shining brightly.