
Reuniting with Roots: Dewi's Journey to Cultural Belonging
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Reuniting with Roots: Dewi's Journey to Cultural Belonging
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Dewi berdiri di depan jendela kamarnya, mengamati pantai Bali yang mempesona.
Dewi stood in front of her bedroom window, gazing at the captivating Bali beach.
Angin sepoi-sepoi membawa aroma laut yang segar, dan ombak bergulung dengan lembut menghampiri pantai.
A gentle breeze brought the fresh scent of the sea, and the waves softly rolled towards the shore.
Di belakangnya, suara canda tawa keluarganya memenuhi ruangan.
Behind her, the sound of her family's laughter filled the room.
Hari itu, Bali terasa lebih damai dari biasanya.
That day, Bali felt more peaceful than usual.
Nyepi, hari raya umat Hindu di Bali, baru saja dimulai.
Nyepi, the holy day for Hindu people in Bali, had just begun.
Dewi datang ke resor pantai untuk menghadiri reuni keluarga.
Dewi came to the beach resort to attend a family reunion.
Namun, hatinya diliputi keraguan.
However, her heart was filled with doubt.
Ia merasa terasing dari akar budayanya sendiri.
She felt disconnected from her own cultural roots.
Sewaktu kecil, Dewi lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri.
As a child, Dewi spent much of her time abroad.
Ia tak banyak tahu tentang tradisi Bali.
She knew little about Bali traditions.
Kini, Dewi kembali, mencoba tidak lagi hanya mengamati dari jauh, tetapi ikut serta.
Now, Dewi was back, trying not only to observe from a distance but to participate.
Putri, sepupunya, menghampiri Dewi dengan senyum ceria.
Putri, her cousin, approached Dewi with a cheerful smile.
"Dewi, semua orang menunggumu.
"Dewi, everyone is waiting for you.
Aku sudah siapkan pakaian tradisional untukmu," kata Putri sambil menunjuk pakaian khas Bali yang indah.
I've prepared traditional clothing for you," Putri said, pointing to the beautiful Bali attire.
Dewi tersenyum lemah.
Dewi smiled weakly.
"Terima kasih, Putri," jawabnya.
"Thank you, Putri," she replied.
Nyepi ini adalah kesempatan Dewi.
This Nyepi was Dewi's opportunity.
Ia bertekad untuk tumbuh lebih dekat dengan keluarganya dan mencari hubungan dengan budaya yang selalu terasa asing.
She was determined to grow closer to her family and find a connection with a culture that always felt foreign.
Sambil mengenakan pakaian tradisional, Dewi merasakan sesuatu di hatinya.
As she donned the traditional attire, Dewi felt something in her heart.
Sesuatu yang hangat, namun samar.
Something warm, yet elusive.
Adi, yang lebih tua namun penuh semangat, memulai percakapan tentang makna Nyepi.
Adi, who was older yet spirited, began a conversation about the meaning of Nyepi.
"Dewi, Nyepi adalah waktu untuk merenung.
"Dewi, Nyepi is a time for reflection.
Kita berdiam diri agar alam bisa beristirahat," jelas Adi lembut.
We remain silent so nature can rest," Adi explained gently.
Dewi mengangguk, mencoba menyerap semuanya.
Dewi nodded, trying to absorb it all.
Saat malam tiba, gelap menyelimuti dunia luar.
As night fell, darkness enveloped the outside world.
Suara hening menggantikan suara tawa dan ocehan.
Silence replaced the sounds of laughter and chatter.
Dewi duduk di teras, menghadap laut yang seakan berbicara dalam bisikan.
Dewi sat on the terrace, facing the sea that seemed to speak in whispers.
Dalam kesunyian itu, Dewi mulai merasakan denyut kehidupan Bali.
In that silence, Dewi began to feel the pulse of Bali's life.
Momen itu membawanya pada kesadaran baru.
That moment brought her a new awareness.
Jiwanya terasa lebih ringan.
Her soul felt lighter.
Ia menyadari bahwa meski selama ini terpisah, akar budaya tetap ada di dalam dirinya.
She realized that although she had been separated, the cultural roots remained within her.
Dewi mengusap air mata yang mengalir pelan di pipinya.
Dewi wiped away the tears gently streaming down her cheeks.
Air mata kebahagiaan.
Tears of happiness.
Menerima dirinya sendiri.
Accepting herself.
Ketika pagi tiba, Nyepi berakhir.
When morning came, Nyepi was over.
Dewi merasa berubah.
Dewi felt transformed.
Saat berkumpul kembali dengan keluarga, ia merasakan kehangatan yang berbeda.
As she regrouped with her family, she felt a different warmth.
Kini, Dunyo bukan lagi sekadar tamu dalam keluarganya.
Now, Dunyo was no longer just a guest in her family.
Ia adalah bagian dari mereka.
She was a part of them.
Dewi telah menemukan kedamaian dan kebanggaan dalam budayanya sendiri.
Dewi had found peace and pride in her own culture.
Dewi kini berjalan di antara keluarganya dengan senyum yang lebih lebar dan hati yang lebih kuat.
Dewi now walked among her family with a wider smile and a stronger heart.
Ia tahu dirinya tidak sendirian.
She knew she was not alone.
Ada sejarah panjang dan budaya kaya yang akan selalu menjadi miliknya.
There was a long history and rich culture that would always belong to her.
Dewi akhirnya menemukan tempatnya, berada di tengah keluarga, di tanah leluhur yang indah ini.
Dewi finally found her place, among her family, in this beautiful ancestral land.
Dan itulah awal dari petualangan baru dalam hidupnya.
And that was the beginning of a new adventure in her life.