FluentFiction - Indonesian

Reuniting with Roots: Dewi's Journey to Cultural Belonging

FluentFiction - Indonesian

18m 37sFebruary 9, 2026
Checking access...

Loading audio...

Reuniting with Roots: Dewi's Journey to Cultural Belonging

1x
0:000:00

Sign in for Premium Access

Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.

View Mode:
  • Dewi berdiri di depan jendela kamarnya, mengamati pantai Bali yang mempesona.

    Dewi stood in front of her bedroom window, gazing at the captivating Bali beach.

  • Angin sepoi-sepoi membawa aroma laut yang segar, dan ombak bergulung dengan lembut menghampiri pantai.

    A gentle breeze brought the fresh scent of the sea, and the waves softly rolled towards the shore.

  • Di belakangnya, suara canda tawa keluarganya memenuhi ruangan.

    Behind her, the sound of her family's laughter filled the room.

  • Hari itu, Bali terasa lebih damai dari biasanya.

    That day, Bali felt more peaceful than usual.

  • Nyepi, hari raya umat Hindu di Bali, baru saja dimulai.

    Nyepi, the holy day for Hindu people in Bali, had just begun.

  • Dewi datang ke resor pantai untuk menghadiri reuni keluarga.

    Dewi came to the beach resort to attend a family reunion.

  • Namun, hatinya diliputi keraguan.

    However, her heart was filled with doubt.

  • Ia merasa terasing dari akar budayanya sendiri.

    She felt disconnected from her own cultural roots.

  • Sewaktu kecil, Dewi lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri.

    As a child, Dewi spent much of her time abroad.

  • Ia tak banyak tahu tentang tradisi Bali.

    She knew little about Bali traditions.

  • Kini, Dewi kembali, mencoba tidak lagi hanya mengamati dari jauh, tetapi ikut serta.

    Now, Dewi was back, trying not only to observe from a distance but to participate.

  • Putri, sepupunya, menghampiri Dewi dengan senyum ceria.

    Putri, her cousin, approached Dewi with a cheerful smile.

  • "Dewi, semua orang menunggumu.

    "Dewi, everyone is waiting for you.

  • Aku sudah siapkan pakaian tradisional untukmu," kata Putri sambil menunjuk pakaian khas Bali yang indah.

    I've prepared traditional clothing for you," Putri said, pointing to the beautiful Bali attire.

  • Dewi tersenyum lemah.

    Dewi smiled weakly.

  • "Terima kasih, Putri," jawabnya.

    "Thank you, Putri," she replied.

  • Nyepi ini adalah kesempatan Dewi.

    This Nyepi was Dewi's opportunity.

  • Ia bertekad untuk tumbuh lebih dekat dengan keluarganya dan mencari hubungan dengan budaya yang selalu terasa asing.

    She was determined to grow closer to her family and find a connection with a culture that always felt foreign.

  • Sambil mengenakan pakaian tradisional, Dewi merasakan sesuatu di hatinya.

    As she donned the traditional attire, Dewi felt something in her heart.

  • Sesuatu yang hangat, namun samar.

    Something warm, yet elusive.

  • Adi, yang lebih tua namun penuh semangat, memulai percakapan tentang makna Nyepi.

    Adi, who was older yet spirited, began a conversation about the meaning of Nyepi.

  • "Dewi, Nyepi adalah waktu untuk merenung.

    "Dewi, Nyepi is a time for reflection.

  • Kita berdiam diri agar alam bisa beristirahat," jelas Adi lembut.

    We remain silent so nature can rest," Adi explained gently.

  • Dewi mengangguk, mencoba menyerap semuanya.

    Dewi nodded, trying to absorb it all.

  • Saat malam tiba, gelap menyelimuti dunia luar.

    As night fell, darkness enveloped the outside world.

  • Suara hening menggantikan suara tawa dan ocehan.

    Silence replaced the sounds of laughter and chatter.

  • Dewi duduk di teras, menghadap laut yang seakan berbicara dalam bisikan.

    Dewi sat on the terrace, facing the sea that seemed to speak in whispers.

  • Dalam kesunyian itu, Dewi mulai merasakan denyut kehidupan Bali.

    In that silence, Dewi began to feel the pulse of Bali's life.

  • Momen itu membawanya pada kesadaran baru.

    That moment brought her a new awareness.

  • Jiwanya terasa lebih ringan.

    Her soul felt lighter.

  • Ia menyadari bahwa meski selama ini terpisah, akar budaya tetap ada di dalam dirinya.

    She realized that although she had been separated, the cultural roots remained within her.

  • Dewi mengusap air mata yang mengalir pelan di pipinya.

    Dewi wiped away the tears gently streaming down her cheeks.

  • Air mata kebahagiaan.

    Tears of happiness.

  • Menerima dirinya sendiri.

    Accepting herself.

  • Ketika pagi tiba, Nyepi berakhir.

    When morning came, Nyepi was over.

  • Dewi merasa berubah.

    Dewi felt transformed.

  • Saat berkumpul kembali dengan keluarga, ia merasakan kehangatan yang berbeda.

    As she regrouped with her family, she felt a different warmth.

  • Kini, Dunyo bukan lagi sekadar tamu dalam keluarganya.

    Now, Dunyo was no longer just a guest in her family.

  • Ia adalah bagian dari mereka.

    She was a part of them.

  • Dewi telah menemukan kedamaian dan kebanggaan dalam budayanya sendiri.

    Dewi had found peace and pride in her own culture.

  • Dewi kini berjalan di antara keluarganya dengan senyum yang lebih lebar dan hati yang lebih kuat.

    Dewi now walked among her family with a wider smile and a stronger heart.

  • Ia tahu dirinya tidak sendirian.

    She knew she was not alone.

  • Ada sejarah panjang dan budaya kaya yang akan selalu menjadi miliknya.

    There was a long history and rich culture that would always belong to her.

  • Dewi akhirnya menemukan tempatnya, berada di tengah keluarga, di tanah leluhur yang indah ini.

    Dewi finally found her place, among her family, in this beautiful ancestral land.

  • Dan itulah awal dari petualangan baru dalam hidupnya.

    And that was the beginning of a new adventure in her life.