
Family's Rainy Resilience: Balancing Duty and Dreams
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Family's Rainy Resilience: Balancing Duty and Dreams
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Hujan turun deras di atas atap darurat rumah sakit lapangan di Palu.
Rain poured heavily on the makeshift roof of the field hospital in Palu.
Suara gemuruh air menambah suasana yang penuh harapan di dalam bangunan sederhana itu.
The thunderous sound of water added to the atmosphere of hope inside the simple building.
Di dalam salah satu bilik, Adi duduk di samping ayahnya, Budi, yang berbaring lemah tapi tersenyum hangat kepadanya.
In one of the rooms, Adi sat beside his father, Budi, who lay weak but smiled warmly at him.
Rina, bibi Adi, tengah mengatur persediaan obat dengan cekatan namun terlihat lelah.
Rina, Adi's aunt, was busy arranging the medical supplies skillfully, yet she looked tired.
Adi menghela napas.
Adi sighed.
Dia menyeka rambutnya yang basah oleh hujan sebelum memulai percakapan.
He wiped his hair, which was wet from the rain, before starting the conversation.
"Ayah, aku khawatir.
"Dad, I'm worried.
Aku harus mendukung keluarga, tapi studi di kota juga penting.
I need to support the family, but studying in the city is also important."
"Budi menatap dalam ke mata anaknya.
Budi looked deeply into his son's eyes.
"Adi, pendidikanmu adalah investasi.
"Adi, your education is an investment.
Kita butuh kamu untuk belajar dan kembali dengan pengetahuan.
We need you to study and come back with knowledge.
Aku akan baik-baik saja di sini.
I'll be fine here.
Rina ada di dekat kita.
Rina is nearby."
"Rina, yang mendengar, ikut bergabung dalam percakapan.
Rina, overhearing this, joined the conversation.
"Adi, jangan khawatir.
"Adi, don't worry.
Aku akan memastikan ayah baik-baik saja.
I'll make sure Dad's all right.
Kamu fokus saja pada studimu.
You just focus on your studies.
Kita bisa atur semuanya bersama-sama.
We can arrange everything together."
"Adi merasa sedikit lega, meskipun rasa bersalah tetap menghantuinya.
Adi felt slightly relieved, although the sense of guilt still haunted him.
Dia menghela napas lagi, lebih pelan, lalu bertanya, "Bagaimana kalau aku tinggal beberapa hari lagi?
He sighed again, more softly, and then asked, "What if I stay for a few more days?
Aku bisa atur jadwal agar bisa bolak-balik sementara.
I can arrange a schedule to go back and forth for a while."
"Budi mengangguk setuju.
Budi nodded in agreement.
"Itu ide yang baik.
"That's a good idea.
Aku bangga padamu, Adi.
I'm proud of you, Adi.
Ingatlah, keluarga tidak hanya soal berada di tempat yang sama, tapi saling mendukung dari jauh pun bisa disebut sebagai keluarga.
Remember, family is not just about being in the same place, but supporting each other from afar can also be called family."
"Adi termenung.
Adi pondered.
Kata-kata ayahnya memberi kekuatan dan kedewasaan baru baginya.
His father's words gave him new strength and maturity.
Tinggal beberapa hari lagi di desa, Adi merancang jadwal agar bisa kembali ke kota dengan tenang.
Staying a few more days in the village, Adi planned a schedule so he could return to the city calmly.
Rina pun tetap bersemangat mendukung, sementara Budi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Rina was also eager to support, while Budi began to show signs of recovery.
Beberapa hari kemudian, hujan masih setia mengiringi keberangkatan Adi kembali ke kota.
A few days later, the rain still faithfully accompanied Adi's departure back to the city.
Dengan semangat baru dan dukungan yang kuat dari keluarga, Adi merasa beban di pundaknya terasa lebih ringan.
With renewed spirit and strong family support, Adi felt the burden on his shoulders become lighter.
Ia tahu, bersandar pada keluarga bukanlah tanda kelemahan, namun justru sumber kekuatan.
He knew that relying on family was not a sign of weakness, but rather a source of strength.
Di dalam bus yang perlahan melaju meninggalkan Palu, Adi menatap ke luar jendela.
Inside the bus that slowly left Palu, Adi looked out the window.
Pemandangan gunung yang hijau dan langit abu-abu terlukis indah di matanya.
The view of green mountains and gray sky was beautifully painted in his eyes.
Ia berjanji akan kembali lagi, membawa pulang keberhasilan yang sudah direncanakannya bersama keluarga tercinta.
He promised to return, bringing home the success he had planned with his beloved family.